Aku ingat cerita sepupu perempuanku Siffa, saat dia duduk di SMP. Cerita tentang pengalamannya menjadi Ketua Umum PMR. Saat itu adalah pengalaman pertamanya menjalani tanggung jawab besar sebagai ketua. Masalah pun pasti datang untuk mencapai sebuah  tahap yang disebut kedewasaan. Kejadian ini pun terjadi.

Sementara itu Siffa pun memiliki teman-teman dekat atau sering disebut ‘Geng’. Walaupun mereka semua terpencar di beberapa kelas, namun biasanya sepulang sekolah Siffa dan teman-temannya main. Selalu ada saja yang dilakukan geng sepupuku, mulai mencari dan membeli accesoris, sampai menghabiskan waktu di rumah teman. Diantara 10 orang teman se-geng, Siffa memiliki teman yang satu kelas dan pulang searah sehingga selalu pulang bersama. Persahabatan mereka sangat baik, hingga harus diuji dengan masalah yang terjadi kepada Siffa.

Pada saat itu adalah beberapa hari menjelang pertandingan ketangkasan PMR se-SMP di kota Bogor. Seperti biasa beberapa minggu sebelum pertandingan kegiatan ekskul disibukkan dengan jadwal latihan.

Siffa sempat keteteran dengan kegiatannya sepulang sekolah. Setiap pulang sekolah Siffa harus selalu mengawasi kegiatan latihan menjelang lomba. Akhir-akhir ini dirasakan Siffa memang jarang pulang bareng dengan sahabatnya karena sibuk latihan untuk lomba.

“Kemana aja sih? Kok hampir tiap hari pulang sore mulu?” Suatu saat mama bertanya.

“Biasa Mah, kan mau lomba tandu, ya jadi tiap pulang sekolah aku nemenin anak-anak PMR latihan.” Dengan wajah yang tampak lesu.

Hari-hari pun berlalu dengan sama. Siffa pun merasa jenuh. Belakangan pun Siffa sering mangkir dari tugasnya di Eksul. Hingga pada suatu saat seluruh pengurus PMR dikumpulkan bersama Guru Pembina dan Pelatih. Pada kesempatan itu guru pembina berbicara panjang lebar tentang keadaan Ekskul PMR. Intinya, dirasakan terdapat kemunduran. Sampai akhirnya pembina berbicara tegas kepada sang Ketua menanyakan tentang tanggung jawabnya selama ini. Pembina mengatakan kalau Siffa sering mangkir dari tanggung jawabnya, padahal ketua bertugas hanya menemani, tapi kenapa semangatnya kalah jauh dengan anggota PMR yang tiap hari harus latihan sampai lelah. Dan apakah Ketua tidak malu dengan pelatih yang selalu datang tepat waktu dan semangat walaupun tidak dibayar dengan layak dari sekolah. Seluruh pengorbanannya pulang sore dan tidak bersama teman-temannya pun dirasa sia-sia. Padahal Siffa pun tidak sering untuk mangkir dari latihan. Tapi, anggapan orang pasti berbeda. Intinya, hari itu dirasakan sebagai sidang dirinya oleh pembina PMR di depan seluruh pengurus harian PMR. Dan Siffa pun hanya bisa menangis sambil meminta maaf kepada seluruh pengurus harian yang hadir. Siffa pun berjanji untuk tidak mengulangi kekhilafannya.

Keesokan harinya, teman-teman satu geng-nya terasa bersikap beda. Terasa diam dan menjauhi Siffa. Siffa bingung dan sempat bertanya kepada teman sebangkunya.

“Ada apa sih? Kok anak-anak kayaknya beda banget hari ini ke gue?” Siffa heran.

“Emang lo beneran engga tau ada apa? Lo engga nyadar apa?” dengan tampang sedikit jutek.

“Nyadar apaan? Ada yang salah ama gue? Kasih tau dong!” Siffa tambah bingung.

“Beneran lo engga tau?” dijawab Siffa dengan gelengan kepala. “Gue engga mau jelasin. Entar aja sekalian anak-anak yang bilang sama lo.”

Pulang sekolah, Siffa dan teman-temannya kumpul di salah satu ruang kelas yang sudah ditinggal seluruh penghuninya pulang.

“Sebenernya ada apaan sih? Hari ini keliatan pada serius banget?” Siffa membuka pembicaraan.

“Lo tau engga maksud kita-kita kumpul disini?” Tanya Amel, salah satu teman yang dituakan. Siffa hanya menggeleng. “Kemaren-kemaren ada yang ngadu sama gue. Katanya lo itu udah beda sekarang. Udah jarang bareng sama kita-kita lagi. Lo keliatannya sibuk banget ama PMR-lo!”

“Iya. Sampe kemaren aja lo ninggalin si Iis gitu aja terus langsung cabut ke UKS. Sampe si Iis sendirian.” Febria ikut nimbrung.

“Lo sadar engga sih? Elo itu udah sok sibuk banget! Sok penting gitu di PMR. Gue juga denger dari beberapa anak-anak yang laen lo keliatan belagu banget. Keliatan banget semenjak elo jadi Ketua PMR.” Sindiran Icha bener-bener terasa sakit oleh Siffa. Siffa Cuma bisa diam.

“Elo itu udah bener-bener berubah tau! Semenjak lo jadi Ketua PMR, lo udah engga peduli lagi ama temen-temen se-geng elo!” Teman yang lain menimpali tidak kalah pedas.

Tidak terasa air mata Siffa mengalir. Siffa benar-benar shock mendengar segala tuduhan teman-temannya. Padahal baru kemarin, mungkin belum ada 24 jam dirinya pun disidang tentang tanggung jawabnya di PMR karena lebih sering menghabiskan waktu dengan teman-temannya. Hari ini Siffa pun disidang ulang dan dipertanyakan tentang kesetiakawanannya. “Jadi apa yang selama ini dia lakukan?” Siffa bertanya dalam hati. Terasa setiap lelahnya dan pulang telatnya selama ini sangat sia-sia.

“Engga usah nangis deh lo! Lo pikir dengan lo nangis kita-kita bakal kasian apa sama lo?” ucapan itu benar-benar membuat Siffa sakit dan memutuskan untuk menjawab semua perkataan teman-temannya yang dirasa sudah sangat keterlaluan.

“Udah deh berenti!” dengan emosi dan air mata yang masih mengalir. “Maksud lo semua gue itu engga setia kawan gitu? Gue egois, sombong and belagu banget gitu setelah jadi Ketua? Elo semua tau apa yang kemaren gue alamin?” teman-temannya diam. “Gue baru disidang sama pembina and pelatih PMR gara-gara gue sering cabut ama kalian dan engga peduli sama latian! Sekarang lo semua mau bilang gue engga peduli?”

“Sekarang coba deh kalian tuh bisa ngerti! Iis, elo engga usah manja juga kali cuma gara-gara gue pergi ke UKS buat latian seolah-olah engga ada lagi temen yang balik bareng. Padahal masih ada yang lain.” Masih dengan nada kesal bercampur air mata.

“Amel sama Icha juga. Elo berdua pada kemana waktu gue latian? Saat gue butuhin di PMR lo pada kemana? Pas gue disidang kemaren dimana lo berdua? Engga ada! Elo berdua juga kan pengurus PMR, gue engga pernah maksa lo buat dateng latian padahal itu juga wajib buat kalian. Gue ngerti, karna gue engga mau keliatan otoriter ama sahabat sendiri. Lagian emang udah berapa kali gue begini? Udah sering gue engga ikut acara kalian? Kapan?”

“Gue Cuma sendiri, engga ada gue juga maen masih rame ama 9 orang! Beneran gue sedih banget! Hari ini gue mau curhat sama lo semua soal masalah gue yang disidang kemaren. Tapi gue malah disidang balik. Gue harus ngadu ama siapa? Sahabat-sahabat gue aja pada nyidang gue kaya gini, semua nyalahin gue. Sahabat yang seharusnya selalu ada buat support, tapi ini apa? Masih nyebut kalau kita sahabatan, padahal lo semua engga ada yang peduli ama gue!!” tangis Siffa makin parah.

“Engga gitu kok maksud kita. Kita engga niat ngehakimin lo kok!” Nina memeluk Siffa sambil nangis juga. “Kita Cuma sedih, kita semua ngerasa kehilangan lo aja karena lo sibuk di PMR. Dan kita juga engga ada yang tau kalau kemaren lo disidang di PMR”

“Sekarang terserah elo semua deh mau gimana. Gue minta maaf kalau selama ini gue ngacauin. Ada sikap gue yang engga ngenakin gue minta maaf banget. Tapi, gue masih punya tanggung jawab di PMR gue engga mungkin ninggalin gitu aja, dan gue juga masih sayang sama lo semua. Gue gak mau kehilangan temen-temen gue. Tapi kalau menurut kalian gue cuma bakal ngacauin lo semua, lo semua mau buang gue dari geng ini, gue pasrah aja.”

“Engga laa.. hari ini ada juga gara-gara kita masih care sama lo! Engga mungkin kita bakal buang lo dari geng!” Nina masih merangkul Siffa.

“Iya. Gue juga minta maaf. Gue sama sekali engga maksud bikin lo sedih. Gue cuma engga mau kehilangan salah satu dari temen gue. Termasuk elo. Gue minta maaf.” Amel pun memeluk Siffa.

“Kita semua Cuma minta sesibuk apapun elo, lo harus bisa merhatiin temen-temen lo.” Mereka pun berbaikan.

Mungkin bagi anak-anak seusia pelajar SMP, masalah tanggung jawab masih harus dilatih. Pembelajaran ini sangat berarti untuk kehidupan Siffa ke depannya. Dimana harus serius dalam komitmen tanggung jawab, bisa membagi waktu dalam prioritas, tetap setia kawan dan menghargai persahabatan.

Kita memang tidak bisa membahagiakan atau memberi kepuasan yang sama kepada setiap orang, namun setidaknya kita sudah melakukan yang terbaik untuk orang-orang di sekitar kita.

Fauziah Zurriyatina

I34100077

Laskar 26 panji 5

Aku ingin menceritakan kisahku yang membuka fikiranku untuk menjadi orang yang mudah-mudahan lebih baik dari sebelumnya.

Aku adalah anak satu-satunya di keluargaku. Seringkali aku merasa kesepian di rumah. Rasanya aku ingin sekali memiliki saudara kandung yang bisa berbagi suka duka dalam satu keluarga. Tapi aku harus tetap bersyukur karena mungkin memang begini jalanku.

Sebagai anak tunggal, aku merasa semua perhatian orang tuaku benar-benar tercurah padaku, semua perhatian dan harapan ada padaku. Terkadang aku merasa sangat terbebani dengan semua itu. Ingin sekali aku membagi harapan kedua orang tuaku pada orang lain, tapi aku tidak bisa.

Usiaku sudah mencapai 18 tahun. Aku memang sudah diberi kepercayaan oleh orang tuaku, tapi aku merasa jika mereka belum sepenuhnya mempercayaiku.

Aku masih saja merasa diperlakukan seperti anak kecil, meskipun terkadang aku memang membutuhkan perhatian yang seperti itu. Tapi begitu aku mulai menemukan teman-teman si SMA, aku mulai berusaha untuk tidak bertingkah kekanakan lagi. Aku mengikuti ekstrakurikuler pasus untuk membentuk pola fikirku yang lebih dinamis dan kritis.

Terkadang aku merasa iri pada teman-temanku yang memiliki saudara kandung. Mereka selalu punya cerita tentang kakak maupun adiknya yang menurutku sangat menarik, karena aku tidak pernah bisa merasakan hal yang seperti itu. Mereka juga diberi kepercayaan sepenuhnya untuk melakukan yang menurut mereka baik.

Sewaktu SMP aku merasa sulit untuk menemukan yang namanya sahabat. Karena pada saat teman-temanku pergi melakukan hal bersama-sama sepulang sekolah, aku jarang sekali bisa ikut karena pasti sudah dihubungi orangtuaku untuk segera pulang. Sedangkan untuk lebih mengakrabkan teman, akan lebih efektif saat sedang bersama-sama menghabiskan waktu diluar jam pelajaran untuk lebih mengenal sifat-sifat mereka.

Ingin sekali rasanya bisa pulang ke rumah agak larut dan pada saat pulang tidak dimarahi. Aku merasa mereka over protectif padaku, seolah mereka tidak bisa percaya pada apa yang aku lakukan dan tidak menganggapku sebagai seorang yang menuju dewasa.

Tapi suatu hari temanku bicara padaku, dia mengeluh tentang orang tuanya yang menurutnya sangat tak acuh. Orang tuanya tidak peduli padanya, sehingga saat dia pulang malampun tidak pernah dihubungi. Seakan jika dia tidak pulang kerumah pun mereka tidak peduli.

Dia lebih sering menghabiskan waktu diluar rumah untuk melampiaskan kekesalannya. Mencari kebahagiaan diluar rumah dia lakukan. Sekedar mencari perhatian dari lingkungannya.

Suatu ketika, beberapa temanku mengadakan acara kumpul dan touring bersama ke Curug di daerah Cibodas menggunakan sepeda motor. Karena hampir semua taman dekatku ikut, akupun ingin ikut, walaupun aku tahu pasti tidak mudah mendapatkan izin orang tua. Akhirnya aku berusaha bernegosiasi dengan orang tua dan meminta izin untuk ikut pergi. Seperti perkiraanku, orang tuaku sulit dirayu. Tapi aku tidak putus asa, dan akhirnya izin pun diberikan dengan berbagai syarat dan pesan-pesan sebelum berangkat.

Orang tuaku mengatakan bahwa sebelum ashar aku sudah harus dijalan menuju pulang dan sebelum magrib sudah tiba di rumah. Sedikit kecewa, tapi aku menyetujui.

Hari keberangkatan pun tiba. Pagi-pagi sekali aku dan teman-teman kumpul di sekolah. Banyak sekali teman-temanku yang datang terlambat, dan jam keberangkatan pun molor. Kami baru berangkat sekitar pukul 11 siang dengan 6 sepeda motor.

Ternyata perjalanan yang harus ditempuh untuk tiba di tujuan sangat jauh dan karena macet sepanjang perjalanan, kami baru tiba tepat pukul 2 sore. Pengelola kawasan wisata pun mengatakan jika kami ingin tiba di Curug, maka kami harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki mendaki gunung. Perjalanan yang harus ditempuh pun memakan waktu hampir 45 menit. Setelah aku hitung-hitung, kemungkinan aku akan terlalu sore tiba di rumah jika aku tetap melanjutkan perjalanan. Teringat akan janjiku dan pesan orang tuaku, maka dengan berat hati aku memutuskan untuk kembali pulang dan meminta salah seorang untuk mengantarku. Aku jelaskan kepada sahabatku akan pesan dari orang tuaku, karena mereka telah memahami sifat orang tuaku yang sangat disiplin itu, merekapun mengerti. Malah beberapa temankupun ikut kembali pulang, membatalkan perjalanan hari itu dan mencari waktu lain untuk pergi.

Namun beberapa temanku yang lain ingin tetap melanjutkan perjalanan. Kami pun berpisah. Setelah makan siang yang sempat tertunda, kami pun pulang.

Perjalanan pulang pun sedikit padat di perjalanan. Namun, bersyukur sebelum magrib aku tiba dirumah. Berusaha tidak melanggar janjiku.

Keesokan harinya, aku mendengar kabar dari teman-temanku yang melanjutkan perjalanan ke Curug, bahwa mereka terjebak hujan sehingga mereka terpaksa pulang hujan-hujanan. Tanpa bekal makanan atau minuman, mereka harus pulang dengan basah kuyup dan tiba kembali ke rumah larut malam dengan badan yang menggigil dan pegal-pegal yang luar biasa. Sedangkan hari senin ini ada tes olah raga, dan mereka harus tetap masuk sekolah. Alhasil, seharian mereka mengeluh pegal-pegal, flu, maupun agak demam.

Di dalam hati, aku bersyukur bahwa aku mematuhi aturan orang tuaku sehingga aku tidak mengalami apa yang dialami teman-temanku. Ada pun rasa bangga pada diriku yang dapat konsisten dengan komitmenku untuk tidak melanggar janji.

Kita tidak akan pernah bisa membayangkan kasih sayang orang tua pada kita. Apapun yang mereka lakukan, seperti apapun cara mereka, pasti hal itu dilakukan untuk kebaikan kita. Maka kita harus selalu berfikiran positif dan jangan selalu mengeluh. Fikiran kita harus dibawa ke masa depan, jangan berfikiran pendek yang hanya akan membawa kesenangan di hari itu saja. Saat orang tua marah, itu berarti mereka sedang mendidik kita untuk menjadi yang lebih baik. Apalagi saat orang tua memperhatikan kita, seharusnya kita bersyukur karena tidak semua orang memiliki perhatian dari orang tua seperti yang orang tua kita beri kepada kita. Kita seharusnya bisa berfikir baik-buruknya dari semua hal yang akan kita lakukan. Karena diri kita bukan hanya milik kita sendiri, tapi milik orang tua kita, teman-teman kita, keluarga besar kita, agama kita, maupun negara kita.

Semoga ini bermanfaat untuk para pembaca yang meluangkan waktunya untuk membaca tulisan ini. Dan mohon maaf atas semua kesalahan yang telah diperbuat.

Fauziah Zurriyatina

I34100077

Laskar 26 panji 5